UKM Sukses Yuyun Bordir Aceh, Foto Bersama Presiden Jokowi Berserta Bu Iriana

BSD Tangsel, iBerita.id 2017Yuyun Bordir merupakan Usaha bordir itu adalah milik Yulidar Oesman (43). Siang itu, ia sedang duduk dim kursi dan lalu berdiri pada stand sedang melayani calon pembali hasil karya bordirannya, karya yang  menyulam bordir sesuai pola berbentuk ornamen bunga-bunga. Dalam kegiatan pameran iven tahunan berskala international berharap mendapatkan buyer asing. Perempuan asal Lambaro Skep, Banda Aceh ini sudah memulai usahanya sejak tahun 1999 silam.

Melalui Pemerintah Aceh melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, pegusaha wanita ini ikut berpartisipasi dalam kegiatan  Trade Expo Indoensia (TEI) ke-32 tahun 2017 di Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (ICE BSD), Tangerang Selatan, Banten, 11-15 Oktober 2017

Sebelum membuka usaha milik sendiri workshop di Jalan Mujahidin, Lr Durian 184  Lambaro Skep, Banda Aceh,Kantar Pemasaran : jl. Prof Ali Hasyimi, Kampung Ilie Banda Aceh.

Yulidar belajar kerajinan bordir dari orang tuanya. Sejak kecil, ia sudah mengikuti jejak ibunya, Huzaimah yang sudah membuka usaha bordir sejak tahun 1980-an. Pada tahun 1989, Huzaimah mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto.

 

Yulidar mengeluti usaha ini memang bidang usaha bordir, 2004 kami terkena tsunami dan habis semua, 2006 memulai usaha dari nol di bantu oleh UNDP Mendapatkan mesin satu dan bahan baku kerjasama disperindag provinsi aceh

“kami di bantu ada sekitar 150 ukm dalam dilatih keterampilan, yang masif terdata oleh UNDP,” Katanya Yulidar

lalu banyang waktu itu semenjak masih usia kecil  selalu berusaha membuat aneka kreasi sulaman bordir saat mempunyai waktu luang.

“Pesanan prodak saat ini sudah nasional, pengiriman tas kita sdh ke irian jaya,” kata Yulidar

Baru pada 1999 ia mulai membuka usaha sendiri setelah ibunya mulai sibuk dengan kegiatan lain. Bermodal bakat dan kemampuan yang dimiliki, Yulidar tidak mengalami kesulitan saat awal membuka usahanya.

“Tidak sulit karena saya punya bakat alam yaitu bakat dari orang tua,” jelasnya.

Usaha bordir Yulidar sempat terhenti hampir setahun akibat musibah gempa dan tsunami melanda Aceh 2004 silam. Seluruh harta benda miliknya hilang waktu itu. Setelah beberapa bulan berada di pengungsian, Yulidar kembali merintis usahanya pada 2006.

Pada saat awal berdiri kembali, Yulidar hanya mampu menjahit dan membordir baju dan mukena. Lambat laun, usahanya miliknnya semakin berkembang. Baru pada 2006 silam ia mampu mengerjakan aneka motif bordiran seperti pinto Aceh, pucuk rebung, beukah cawan dan sejumlah motif lainnya.

“Sekarang motif pinto Aceh paling diminati karena bentuknya simpel,” ungkapnya.

Yulidar menjual hasil bordiran miliknya dengan harga bervariasi seperti mukena yang dibandrol dengan harga mulai Rp 250 ribu hingga Rp 1,5 juta.

Untuk mukena seharga Rp 250 ribu biasanya siap dikerjakan dalam waktu tiga hari sementara mukena dengan harga Rp 1,5 juta membutuhkan waktu satu bulan untuk mengerjakannya. Sedangkan baju dijual dengan harga mulai Rp 250 ribu hingga Rp 1 juta.

“Mukena Rp 1,5 juta itu mahal karena bordirnya halus dan ada penambahan payetnya. Tapi yang paling dimininati itu bordiran karancang karena bahannya dari sutera,” jelasnya.

Untuk membuat aneka bordiran, Yulidar harus membeli semua bahan baku dari Medan atau Jakarta. Hal itu sangat berpengaruh terhadap harga bordiran yang dikerjakannya. Menurutnya, harga bordiran miliknya meningkat dua kali lipat dibanding dengan harga jual di Jakarta.

Tapi Yulidar mempunyai trik tersendiri agar usahanya tetap bertahan. “Kita menciptakan keunikan motif seperti pinto Aceh,” kata Yulidar.

Pada saat awal-awal usahanya berdiri, belum banyak masyarakat Aceh yang memakai pakaian bordiran. Ia terus berusaha mencari cara untuk menarik minat masyarakat. Salah satunya adalah dengan memodifikasi motif lama tapi tidak menghilangkan kekhasan Aceh.

“Sekarang semua kalangan mau pakai bordir,” ungkapnya.

Bukan hanya membuka usaha bordir, Yulidar juga memberi pelatihan kepada perempuan-perempuan di desanya agar mau membuat bordir. Sejak 2008 silam, ia terus membina warga desanya sehingga banyak di antaranya mereka kini aktif membordir. dan saat ini di era digital ukm yuyun bordir sdh bisa diakses melalui  @yulidar_oesman, Handphone : 081369407512, 085260840045

 

 

Yulidar berkeinginan desanya menjadi kampung bordir seperti Tasikmalaya, Jawa Barat. Untuk melatih mereka, dulu 7 kelompok lalu Yulidar membuat 10 kelompok dengan jumlah warga sekitar 80 hingga 90 orang. Setiap hari, mereka membordir di rumah masih-masih setelah menyelesaikan pekerjaan sendiri.

“Ibu-ibu di sini rata-rata punya pekerjaan sendiri seperti tukang cuci dan jual kue basah,” ujar Yulidar.

Hasil bordiran Yulidar kini bukan hanya dikenal di Aceh tapi sudah merambah Jakarta bahkan Malaysia.

Selain itu, juga banyak tamu dari luar negeri seperti Arab dan Inggris yang datang membeli hasil bordirannya. Karena usahanya semakin berkembang, Yulidar kini meraup omzet sebesar Rp 10 juta hingga Rp 25 juta per bulan.

Menjelang lebaran masyarakat yang menjahit atau membordir ditempatnya semakin meningkat dibanding hari-hari biasa.

“Tapi karena kita kekurangan tenaga kerja, jadi agak kewalahan,” ungkap Yulidar.

Kunjungan Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo mendatangi salah satu stan UKM Aceh dalam acara Trade Expo Indonesia ke-32 tahun 2017 di ICE Bumi Serpong Damai Tangerang, Banten, Rabu (11/10)

“Alhamduliah stan kami di kunjungi oleh presiden jokowi dan ibu negara, dan ibu negara tertarik dengan tas bodir,” Pungkas yulidar.(iBerita.id/REf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *