Tragedi Penyerangan Wiranto, Anggota DPR RI Krisdayanti : Kekerasan Bukan Simbol Budaya Kita

Jakarta, iBerita.ID 2019 –Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Perioda 2019 – 2024 Fraks PDI Perjuangan Krisdayanti Mengatakan pertama sy prihatin dan menyampaikan, kekerasan bukan simbol budaya bangsa kita

Atas kejadian  penyerangan terhadap Menteri koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto saat menghadiri acara di Pandeglang, Banten.

Selanjutnya “bangsa indonesia harus melawan segala bentuk radikalisme,  yg berawal dr tindakan intoleransi  ” Kata Krisdayanti

Pengamanan terhadap pejabat negara dievaluasi.

“Terhadap pejabat negara itu menunjukkan bahwa standar operasional pengamanan dan Benahi sistem
pengawalan berlapis ,dan sadar betul bahwa aparatur negara wajib mendapatkan perlindungan,” katanya di Jakarta, Kamis (13/10).

berharap pemerintah segera mengusut kasus penusukan Menkopohukam Wiranto secara profesional. Sehingga, nanti akan diketahui apakah prosedur pengamanan terhadap pejabat negara telah dilakukan sesuai standar.

Berkaca dari kejadian tersebut, Krisdayanti  pun mengharapkan agar pejabat-pejabat pemerintah lebih berhati-hati dan memperhatikan pengamanan saat melakukan kunjungan lapangan.

Sungguh disayangkan pejabat sekelas Menko bisa mengalami penusukan. Karena itu, wajib dievaluasi dan diambil tindakan hukum yang tegas kepada tim pengamanan yang melekat kepada Menko

Dia pun menyampaikan rasa prihatin atas penusukan yang dialami oleh Wiranto dan berharap Wiranto segera pulih dan tidak mengalami luka serius.

Selain itu, Dia Menegaskan Serangan teror tidak boleh membuat kita takut hukum harus ditegakkan

Dalam Kejadian Penyerangan Wiranto Polres Pandeglang dikabarkan langsung mengamankan kedua pelaku penusukan Menkopolhukam Wiranto.

Sumber : Istimewa

Berdasarkan informasi yang didapat, kedua orang pelaku penusukan yang diamankan atas nama Fitri Andriana binti Sunarto dan Syahril Alamsyah.

Fitri Andriana diketahui sebagai warga Desa Sitanggai Kecamatan Karangan Kabupaten Brebes, namun saat ini berdomisilii di Kampung Sawah Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang

Sedangkan Syahril tercatat sebagai warga Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, Sumatra Utara.

Polres Pandeglang, Banten menjelaskan kronologi kejadian penusukan Menko Polhukam Wiranto terjadi pada 10 Oktober 2019 sekitar pukul 11.55 Wib di Pintu Gerbang Lapangan Alun-alun Menes, desa Purwaraja, kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

Ketika itu, rombongan hendak meninggalkan helly pad lapangan alun-alun Menes, namun secara tiba-tiba tersangka langsung melakukan penyerangan dan penusukan ke bagian perut Wiranto dengan senjata tajam berupa gunting secara membabi buta.

Wiranto menjalani perawatan di RSUD Berkah Pandeglang bagian Unit Gawat Darurat. “Untuk Pak Wiranto ada dua tusukan di perut,” kata Direktur Utama RSUD Berkah Pandeglang Firman dikutip dari Antara, hari ini.

Selain Wiranto, pihak medis memberikan perawatan kepada Kapolsek Menes Komisaris Polisi Dariyanto, ajudan Wiranto, Fuad dan dan seorang pegawai Universitas Mathla’ul Anwar. Setelah menjalani perawatan di RSUD Berkah Pandeglang, rencananya Wiranto akan dievakuasi ke Jakarta menggunakan helikopter.

Seperti dilaporkan sebelumnya, percobaan penusukan terjadi usai peresmian Gedung Kuliah Bersama Universitas Mathla’ul Anwar di Kampus Universitas Mathla’ul Anwar, Banten, pada hari ini. Dari video yang beredar, tampak Wiranto berpakaian batik hijau-hitam keluar dari mobil dinas warna hitam.

Wiranto hendak bersalaman dengan orang yang menunggunya. Tiba-tiba ada pria tak dikenal membawa pisau berupaya menyerang Wiranto dari arah samping kiri. Orang-orang di sekitar Wiranto langsung melindunginya. Tampak Wiranto sempat terjatuh@iBeritaID/Ref

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *