Lawan COVID-19, Wamendag Ajak Dunia Usaha Tetap Optimis Melihat Berbagai Peluang Perdagangan di Pasar Global

Jakarta, iBerita.ID 2020 – Wakli Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengajak dunia usaha tetap
optimis melihat peluang perdagangan di pasar dunia di tengah darurat pandemi COVID-19. Hal ini
ditekankan Wamendag Jerry saat pertemuan virtual Jakarta CMO Club dengan tema “Business Wisdom
During COVID-19 Era” di Jakarta, pada hari Kamis (14/5).
“Tidak ada satu negara pun yang tidak mengalami kesulitan di tengah pandemi ini. Namun, kita tetap
harus siap menghadapi situasi sulit ini sehingga kita memiliki kesempatan yang sama untuk bangkit
dan melewati masa krisis. Kemampuan beradaptasi dengan “the new normal” dan kejelian melihat
peluang di tengah pandemi adalah semangat yang harus kita bangun bersama, kita sebarkan dan
terus kita jaga agar perdagangan Indonesia kembali pulih dengan cepat,” kata Wamendag Jerry.

Dikatakan Wamendag, status pandemi COVID-19 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
sejak 12 Maret 2020 telah berdampak pada berbagai sektor, tidak terkecuali sektor perdagangan.
Perdagangan memasuki fase yang berat sejak kuartal pertama 2020, di mana bisnis tidak lagi dapat
berjalan normal karena ketidakpastian global dan nasional yang terjadi saat ini.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 akan tumbuh negatif 3 persen.
Penurunan pertumbuhan ekonomi ini akan dirasakan paling dalam oleh negara-negara maju
dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Perdagangan dunia pada 2020 juga diperkirakan
akan turun tajam menjadi negatif 11 persen dari 0,9 persen pada 2019.

Dengan gambaran kinerja perdagangan global dan situasi Pandemi COVID-19 saat ini, maka
pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan jauh lebih rendah dari target APBN
2020, dengan dua skenario, yaitu buruk dengan tumbuh 2,3 persen dan terburuk atau tumbuh negatif
0,4 persen, meskipun IMF memprediksi sedikit lebih baik, yang pertumbuhan ekonomi Indonesia
tumbuh 0,5 persen.
Namun demikian, pada Januari—Maret 2020, neraca perdagangan Indonesia sebenarnya mulai
membaik dan mengalami surplus sebesar USD 2,6 miliar yang terdiri dari surplus neraca nonmigas
sebesar USD 5,7 miliar dan defisit neraca migas USD 3,0 miliar. Ekspor Indonesia juga tercatat sebesar
USD 41,8 miliar atau naik 2,91 persen dibandingkan Januari-Maret 2019.
Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang masih menjadi negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia
dengan pangsa masing-masing sebesar 15,1 persen, 12,2 persen dan 8,7 persen terhadap ekspor non
migas periode Januari-Maret 2020. Namun, yang perlu juga kita cermati pada masa pandemi ini,
ekspor nonmigas justru tumbuh signifikan ke Singapura yaitu naik 35,4 persen dan Italia naik 22,5 persen

 

Dari sisi produk, beberapa produk utama ekspor yang mengalami peningkatan tertinggi pada Januari—
Maret 2020 (YoY) antara lain pakaian jadi bukan rajutan naik 84,2 peren, kendaraan dan bagiannya
naik 36,2 persen; produk tekstil jadi lainnya naik 15,0 persen; CPO & Turunannya naik 10,3 persen,
serta elektronik naik 1,9 persen.
“Kita bisa memanfaatkan peluang pertumbuhan ekspor beberapa produk ini, namun tetap harus
waspada akan kemungkinan penurunan ekspor andalan seperti CPO dan batubara, terutama ke India
karena upaya self reliant. Keinginan menjadi negara mandiri melalui pemenuhan kebutuhan oleh
industri di dalam negeri ini diprediksi akan banyak terjadi di beberapa negara lain di tengah pandemi,”
ujar Jerry.
Wamendag Jerry juga mengungkapkan, selama masa pandemi COVID-19, para perwakilan
perdagangan RI seperti Atase Perdagangan, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), serta Kantor
Dagang dan Ekonomi (KDEI) yang tersebar di 33 negara juga mengalami kesulitan untuk melakukan
pameran dan mengumpulkan para buyer. Pembatasan sosial maupun lockdown yang diberlakukan di
hampir seluruh negara telah membuat upaya menjalin kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif.
Beberapa pameran berskala nasional dan internasional juga dibatalkan sebagai akibat dari pandemi
COVID-19. Namun, semua itu tidak boleh menjadi alasan untuk tidak memanfaatkan peluang untuk
mendorong ekspor Indonesia.
Wamendag Jerry meyakini bahwa daam situasi krisis biasanya meninggalkan pembelajaran. Beberapa
catatan penting dari Pandemi COVID-19 bagi perdagangan global, pertama, perubahan pola
perdagangan global. Pandemi COVID-19 telah menunjukkan terganggunya supply dan demand dari
berbagai bahan baku karena basis produksi di Tiongkok yang terganggu.
Hal ini menjadi pelajaran untuk banyak negara termasuk Indonesia agar tidak menempatkan basis
produksi terpusat atau bergantung di satu tempat dan akan lebih baik jika banyak negara terhubung
dalam rantai pasok global untuk menjaga keberlangsungan pasokan. Situasi ini sekaligus menjadi
peluang relokasi dari beberapa perusahaan multinasional yang ada di Tiongkok ke negara lain
termasuk Indonesia pasca COVID-19.
Kedua, pentingnya kerja sama global. Sebuah pandemi tentu tidak bisa dihadapi sendiri. Oleh karena
itu, Indonesia bersama negara-negara G20 dalam pertemuan secara virtual pada Maret 2020 lalu telah
sepakat untuk membentuk front bersama guna mengatasi COVID-19 sebagai common threat.
Negara-negara G20 sepakat untuk menjamin pertukaran lintas negara yang lancar bagi obat-obatan
dan perlengkapan kesehatan, produk utama pertanian, serta barang dan jasa esensial lainnya;
menjamin ketersediaannya dalam harga terjangkau; dan mendorong penambahan produksi melalui
pemberian insentif dan memfasilitasi investasi di sektor terkait. Komitmen ini menjadi sangat penting,
karena di sisi lain pandemi juga telah membuat negara-negara mulai memproteksi perdagangannya.
“Saya percaya, kita semua selalu optimis memandang masa depan Indonesia. Mari kita bergotong￾royong dalam menjaga roda perdagangan agar tetap bergerak di tengah pandemi COVID-19 ,” pungkas di Kutip dari Keterangan Pers @iBerita.ID/Ref

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *