Jayawijaya, iBerita.ID 2019-Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua telah memberi instruksi kepada semua sekolah yang ada di Wamena harus mulai kembali melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah pada hari Minggu (6/10/2019).
Kata Jhon, menjelaskan aktivitas sekolah akan dimulai dengan pemulihan trauma kepada guru dan murid dan orang tua siswa harus mulai kembali membawa anaknya ke sekolah. “Anak-anak harus kembali sekolah, kita harus mulai bergerak. Jangan takut, keamanan sudah makin banyak dan saya jamin keamanan warga di Wamena,” katanya
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya, Bambang Budiandoyo mencatat sekitar 60% dari 446 Guru yang meninggalkan Wamena pasca kerusuhan dan mencari tempat yang lebih aman.
Bambang menjelaskan guru yang masih ada di Wamena akan tetap melakukan aktivitas sekolah di hari ini, Senin (07/10/2019) “Akan ada pemulihan trauma kepada guru dan siswa. Kegiatan seolah tak langsung proses belajar mengajar,” katanya,
Dinas Pendidikan Kabupaten Jayawijaya terus mendata per sekolah, jumlah guru yang sudah kembali dan yang masih mengungsi, agar data lengkapnya bisa pasti. “Kami berharap ada peningkatan guru yang sudah kembali ke Wamena,” jelasnya.
Di sisi lain masih banyak anak-anak yang memilih bertahan di pengungsian atau bahkan memilih kembali ke daerah asal mengikuti keinginan orang tua mereka dan juga trauma mereka yang masih takut kembali ke Wamena pascakerusuhan.
Salah satu korbannya adalah Nurul Mujriha, siswa kelas 4 SD Nurul Hidayah di Wamena. Nurul kini berada di pengungsian di Yonif 751 di Sentani, Kabupaten Jayapura. Ia terus mengingat kejadian rusuh Wamena pada Senin pagi, 23 September 2019, saat usai upacara di sekolahnya dan pelajar di sekolah itu berteriak dan berlarian ke luar sekolah. Nurul ingat betul, bagaimana ia dijemput oleh orangtuanya dan selamat kembali ke rumah. Dan rumah yang ditepatinnya dilempari batu oleh sejumlah massa.
“Saya tidak akan sekolah lagi di Wamena. Ayah bilang, kami akan ke Makassar saja, pindah ke rumah nenek,” katanya sambil menunjukan wajah sedih, karena ia harus kehilangan teman di sekolahnya dan harus memulai kehidupan baru di sekolahnya di Makassar.
“Teman saya baik-baik di sekolah, ibu guru juga baik, semua baik di Wamena. Tapi, saya takut kembali ke Wamena. Takut rumah dibakar seperti yang lain,” katanya.
Nurul menjadi salah satu anak yang tak lagi bersekolah di Wamena. Padahal hari ini, Senin (7/10/2019) adalah hari pertama aktivitas sekolah di Kota Wamena mulai dilakukan, pasca rusuh Wamena, Senin (23/9/2019), Pgs@iBerita.ID/Ref