Cerita Sukses Batik Sekar Mulyo Heritage UNESCO

Jakarta, iBerita.id 2017 –Pasangan Suami Istri ini Berawal usaha batik dari tahun 1986, dan terjadi gempa di jawa tengah, dan ada pemulihan ekonomi dan semua kolompok batik mandiri dan mendapatkan pelatihan dari NGO lokal, dengan berawal modal Rp. 15jt berawal pinjaman dari seseorang.

Sipon Sunardi Salah seorang pengrajin batik asal Klaten, Poniyem sempat bercerita pada iBerita.id dalam gelaran event Festival Batik Indo Craft 2017 di Jakarta Convation Centre (JCC), pada Minggu (20/11/2017).

menambahkan, usaha yang dirintisnya dari tujuh tahun lalu itu telah mendapatkan beberapa penghargaan. “Tahun 2012 lalu saya ikut lomba di UNESCO di Srawak Malaysia, alhamdulillah jadi deretan batik dengan nilai tertinggi,” kata sunardi

“Kami di bantu oleh dinas perindustrian daerah, kita juga berani maju dengan modal secukupnya,” Kata sunardi

Kreative Corak tulisan canting kala menerakan malam panas di atas kain menjadi ciri khas pembuatan salah satu kain khas Nusantara ini. Ya, kain batik namanya.

Di setiap daerah di Indonesia, khususnya pulau Jawa,  corak atau motif batik memang memiliki perbedaan dan kekhasannya masing-masing.  Begitu pula dengan batik asal Klaten, Jawa Tengah.

Perempuan yang merintis usaha ‘Batik Retno Mulyo Klaten’ ini mengungkapkan, motif batik Klaten memang mengikuti pakem batik Solo yang merupakan corak pakem dari warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia.

Motifnya sendiri serupa motif parang, babon angrem, gajah birowo, bisang baslih, daun kluweh, dan masih banyak lagi.

Namun seiring perkembangan, motif batik yang pakem itu pun mulai dipadukan dengan motif kontemporer untuk menyesuaikan dengan selera pasar. “Pakai motif kontemporer juga supaya bisa dipadu pas pemakaiannya,” kata suaminya  yang akrab disapa Sunardi  ini.

Selain urusan mempertahankan pakem, Sipon mengungkapkan, yang paling menonjol dan menjadi ciri khas batik Klaten adalah pemilihan dasar warna yang didominasi warna soga dan dana radi atawa kuning emas.

Namun melihat tren 2016-2017 di pasar batik Klaten, Sipon mengungkapkan, warna batik Klaten yang paling digandrungi saat ini adalah motifnya pakem dengan pewarnaan lawasan. “Warna lawasan itu warna yang tampak sudah dipakai bertahun-tahun, tapi malah menimbulkan kesan hidup dan anggun terutama untuk warna alam,” papar Sipon.

Sementara itu, memiliki pengalaman selama hampir 41 tahun sebagai buruh batik, Sipon mengungkapkan, dirinya tahu betul urusan ciri batik Klaten sehingga langsung terjun dalam menggarap usaha batik Klatennya.

“Urusan pewarnaan saya terjun langsung. Soalnya Saya ngelotok ilmu membuat batik karena lama jadi pembatik, juga tahu teknik perwarnaan batik dan lainnya karena dulu sebelum membuka usaha saya ikut kursus di BLKI di Solo,” tutur Sipon.

Pengrajin batik asal Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, sebagian mengaku enggan menggunakan pewarna dari alam karena berakibat pada menipisnya keuntungan yang diperoleh dalam berjualan batik.

“Kalau dijual lakunya tidak seberapa tapi prosesnya lama sekali dan agak rumit, jadi saya lebih suka menggunakan pewarna dari sintetis,” kata seorang pengrajin batik asal Kendal, Kirman, di Semarang

Menurutnya jika memproduksi batik tulis dengan pewarna sintetis dalam satu hari bisa menghasilkan satu potong kain namun tidak demikian jika memproduksi batik tulis dengan pewarna alam yang prosesnya membutuhkan waktu hingga satu minggu.

“Saya untuk membuat batik tulis tanpa didesain dulu bisa selesai dalam satu hari, proses pewarnaan juga cepat tapi kalau untuk batik warna alam ini pencelupan bisa dilakukan sampai puluhan kali untuk memperoleh warna sesuai yang diinginkan,” jelasnya.

Kirman juga mengaku batik dengan pewarna alam kurang digemari karena warnanya yang terlalu lembut sedangkan karakteristik batik pesisir adalah penuh warna cerah. “Kebanyakan pembeli saya seleranya dominan warna cerah kalau warna alam selain terlalu ‘soft’ juga gampang pudar,” ujarnya yang pernah memproduksi batik dengan pewarna alam selama tiga bulan ini.

Untuk harga jual pun dirinya tidak berani menjual terlalu mahal karena khawatir tidak laku, jika untuk batik sintetis dijual dengan kisaran harga Rp 350 ribu untuk pewarna alam juga tidak berbeda jauh yaitu kisaran Rp 400 ribu.

Sementara itu pengrajin batik dengan pewarna alam Sipon Sunardi dari Batik Retno Mulyo mengaku memproduksi batik jenis tersebut karena saat ini peminatnya sangat banyak. “Memang untuk prosesnya sangat rumit dan butuh waktu lama tapi penjualan untuk pewarna alam ini justru lebih luas, kalau di Semarang kami menjual sekitar Rp 500 ribu di Jakarta harganya bisa mencapai Rp 700 ribu,” jelasnya.

Berbagai bahan baku yang digunakannya di antaranya kayu jambal, teger, mahoni, jati, dan tingi selain itu pengrajin asal Bayat Klaten ini juga menggunakan pasta daun indigo, tom, dan buah jolawe.

“Untuk bahan bakunya gampang diperoleh dan harganya juga cukup murah yang membuat harga batik ini jadi mahal karena prosesnya yang lama dan rumit,” jelasnya.

Sipon mengatakan bagi penggemar batik dengan pewarna alam harus memperhatikan betul cara penyimpanan dan menjaga batik agar warna tidak mudah pudar. “Untuk penyimpanan seharusnya jangan dilipat karena pada warna bekas lipatan akan cepat memudar selain itu setelah dicuci jangan dijemur langsung kena matahari cukup diangin-anginkan saja,” tukasnya. (iBerita.id/Ref)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *