Cara Sholat Eid Masa Pandemik, 1 Syawal 1441 H

Jakarta, iBerita.ID 2020 –Virus Corona penyebab pandemi Covid-19 yang turut menyerang Tanah Air agaknya memaksa lebaran Idul Fitri 2020 kali ini sedikit berbeda.

Termasuk di antaranya suasana sholat Idul Fitri atau Salat Eid.

Jika biasanya dilaksanakan di lapangan terbuka atau di masjid secara berjamaah, maka bukan tak mungkin Sholat Eid kali ini terpaksa dilakukan sendiri-sendiri di rumah.

Baik sholat sendirian atau berjamaah bersama anggota keluarga di rumah.

Dalam keadaan pandemi saat ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran nomor 04/EDR/I.0/E/2020 tentang Tuntunan Salat Idul Fitri Dalam Kondisi Darurat Pandemi Covid-19.

Edaran yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nasir ini dikeluarkan pada Kamis (14/5/2020).

Dalam edaran tersebut PP Muhammadiyah memperbolehkan melakukan ibadah salat Idul Fitri di rumah jika kawasannya masih belum bebas dari pandemi Covid-19.

Daerah yang belum aman untuk orang dapat berkumpul diharapkan meniadakan salat Idul Fitri di lapangan dan mengganti di rumah masing-masing.

PP Muhammadiyah juga menjelaskan tata cara salat Idul Fitri di rumah sama dengan salat Idul Fitri di lapangan.

Pelaksanaan salat Idul Fitri di rumah diharapkan dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Salat Idul Fitri merupakan ibadah sunnah sehingga tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya.

Berikut cara pelaksanaan salat Idul Fitri di rumah dilansir Instagram Lensa Muhammadiyah, @lensamu pada Senin (18/5/2020):

Pelaksanaan salat

  1. Salat dilakukan dua rakaat tanpa azan, iqamat, bacaan ash-shalatul jami’ah
  2. Tanpa disertai salat sunat baik sebelum maupun sesudahnya

Takbir

  1. Pada rakaat pertama sesudah takbiratul-ihram tujuh kali
  2. Pada rakaat kedua setelah takbiratul qiyam sebanyak lima kali.
  3. Takbir dengan mengangkat tangan pada semua takbir

Bacaan salat

  1. Sesudah al-fatihah Imam membaca surah al-A’laa atau Qaaf pada rakaat pertama
  2. Rakaat kedua membaca surah al-ghaasiyah atau surah Qamar atau sesuai kemampuan Imam di keluarga masing-masing.

Khutbah

  1. Dilakukan setelah salat Idul Fitri
  2. Hanya satu kali khutbah
  3. Tidak diselingi dengan duduk diantara dua khutbah
  4. Khutbah dimulai dengan tahmid, tidak dengan takbir
  5. Tapi dalam khutbah banyak diselingi dengan takbir
  6. Pada akhir khutbah berdoa dengan jari telunjuk menunjuk keatas sebagaimana pada khutbah Jumat

Berikut isi poin-poin edaran dari PP Muhammadiyah yang dikeluarkan melalui Majelis Tarjih dan Tajdid:

  • Hukum salat ‘Idain (Idulfitri dan Iduladha) adalah sunah muakad (sunnah mu’akkadah). Karena salat wajib itu adalah salat lima waktu sebagaimana ditegaskan dalam hadis-hadis sahih di bawah ini dan tidak ada dalil khusus yang menegaskan wajibnya salat ‘Idain serta tidak ada sanksi bagi orang yang meninggalkannya.
  • Apabila pada tanggal 1 Syawal 1441 H yang akan datang kedaan negeri Indonesia oleh pihak berwenang (pemerintah) belum dinyatakan bebas dari pandemi Covid-19 dan aman untuk berkumpul orang banyak maka Shalat Idulfitri di lapangan sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan.

Hal itu untuk memutus rantai mudarat persebaran virus korona tersebut agar kita cepat terbebas daripadanya dan dalam rangka saddu – arīʻah (tindakan preventif) guna menghindarkan kita jatuh ke dalam kebinasaan seperti diperingatkan dalam Al-Quran (Q 2: 195) dan demi menghindari mudarat seperti ditegaskan dalam sabda Nabi saw yang sudah dikutip dalam “Tuntunan Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19,” yang disebut terdahulu. 

Karena tidak dapat dilaksanakan secara normal di lapangan sebagaimana mestinya, lantaran kondisi lingkungan belum dinyatakan oleh pihak berwenang bersih (clear) dari covid-19 dan aman untuk berkumpul banyak orang, maka salat Id bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti salat Id di lapangan.

Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena salat Id adalah ibadah sunah.

Pelaksanaan salat Id di rumah tidak membuat suatu jenis ibadah baru. Salat Id ditetapkan oleh Nabi saw melalui sunahnya.

Salat Id yang dikerjakan di rumah adalah seperti salat yang ditetapkan dalam sunah Nabi saw.

Hanya tempatnya dialihkan ke rumah karena pelaksanaan di tempat yang semestinya, yaitu di lapangan yang melibatkan konsentrasi orang banyak, tidak dapat dilakukan.

Juga tidak dialihkan ke masjid karena halangannya adalah ketidakmungkinan berkumpulnya orang banyak di suatu tempat.

Salat Ied merupakan salat sunah yang dikerjakan pada tanggal 1 Syawal atau saat Idul Fitri. Salat ini sekaligus sebagai tanda berakhirnya ibadah puasa pada bulan Ramadan.
Hukum melaksanakan salat Idul Fitri adalah sunah muakkad atau sangat dianjurkan. Salat Ied ini dikerjakan dengan dua rakaat dan satu salam. Namun, tata caranya sedikit berbeda dengan salat sunah lainnya.
Biasanya, salat Ied diselenggarakan secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka yang bisa menampung orang dalam jumlah banyak. Namun, situasi berbeda terjadi pada tahun ini.
Pandemi virus corona yang belum mereda, baik di dunia maupun Indonesia, membuat masyarakat perlu saling menjaga jarak (social distancing) dan menjauhi kerumunan, untuk mencegah penularan virus corona. Situasi ini memungkinkan salat Ied dilaksanakan tidak seperti biasanya. Umat Islam di Indonesia bisa melaksanakan salat Ied di rumah untuk menghindari risiko penularan penyakit Covid-19 atau virus corona.
Hukum Salat Ied di Rumah
Hukum Salat Ied di Rumah Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menerbitkan Fatwa Nomor 28 Tahun 2020 yang memberikan pendapat tentang ketentuan salat Ied saat pandemi virus corona dan tata cara pelaksanaannya. Fatwa MUI tersebut juga mencantumkan tiga jenis ketentuan dalam pelaksanaan salat Idul Fitri di kawasan terdampak pandemi virus corona (Covid-19).
Pertama, jika umat Islam berada di kawasan terdampak COVID-19 yang sudah terkendali pada saat 1 Syawal 1441 H, yang salah satunya ditandai dengan angka penularan menunjukkan kecenderungan menurun dan ada kebijakan pelonggaran aktifitas sosial yang memungkinkan terjadinya kerumunan berdasarkan ahli yang kredibel dan amanah, maka salat Idul Fitri bisa dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushalla, atau tempat lain.
Kedua, jika umat Islam berada di kawasan terkendali atau kawasan yang bebas COVID-19, dan diyakini tidak terdapat penularan (seperti di kawasan pedesaan atau perumahan terbatas yang homogen, tidak ada yang terkena COVID-19, dan tidak ada keluar masuk orang), shalat Idul Fitri dapat dilaksanakan dengan cara berjamaah di tanah lapang, masjid, mushalla atau tempat lain.
Ketiga, salat Idul Fitri boleh dilaksanakan di rumah dengan berjamaah bersama anggota keluarga, atau secara sendiri (munfarid), terutama jika berada di kawasan penyebaran COVID-19 yang belum terkendali. Dengan demikian, umat Islam yang khawatir dengan risiko penularan virus corona, diperbolehkan untuk melaksanakan salat Ied di rumah, baik berjamaah dengan keluarga ataupun sendirian.
Mengenai tempat pelaksanaan salat Idul Fitri, Nabi Muhammad SAW pernah melangsungkan salat sunah tersebut di mushola maupun masjid. Selain itu, dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat Ied di tempat lapang, demikian dilansir laman NU Online. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab karangan Imam Nawawi, diuraikan bahwa:
“Sunah itu pelaksanaan shalat Ied di mushola jika masjid desa sempit sebagaimana riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW keluar menuju ke mushola dan masyarakat banyak (hadir) pada salat Ied.” Sementara terkait kondisi pandemi virus corona saat ini, pelaksanaan salat Ied ini bisa dialihkan dari masjid, musala, atau lapangan terbuka ke dalam rumah demi melakukan upaya pencegahan terhadap penyebaran virus corona.IY@iBerita.ID/Ref

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *