Jakarta, iBerita.ID 2019 –Menggenjot pertumbuhan perekonomian masyarakat di tingkat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan salah satu fokus dari pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Di era Revolusi Industri 4.0 saat ini, kemajuan teknologi digital pun menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi Pemerintah untuk dapat memperluas jangkauan KUR tersebut. Maka itu, Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebagai salah satu dari tiga bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), terus menciptakan terobosan-terobosan melalui digitalisasi pengembangan bisnis.

Demikian disampaikan Executive Vice President Bisnis Kecil dan Kemitraan BRI Hari Purnomo dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertajuk “Terobosan Baru KUR”, bertempat di Jakarta, Kamis (4/4/2019).

“Tugas kami meningkatkan accessibility. Bagaimana caranya? yakni melalui penyebaran outlet yang mudah dijangkau serta menyiapkan tenaga pemasar yang andal dan kompeten di berbagai sektor,” katanya.

Lebih lanjut Hari Purnomo menyebutkan setidaknya ada tiga terobosan digitalisasi pengembangan bisnis yang sudah dilakukan oleh BRI. Pertama adalah melalui peluncuran satelit yang diberi nama BRISat.

Dengan mengorbitnya BRISat, kini BRI dapat menghubungkan seluruh jaringan yang dimiliki di seluruh Tanah Air, seperti kantor-kantor BRI, mobile offices, e-channels, floating bank, dan agen-agen bank, sehingga dapat diakses oleh masyarakat sebagai calon pemohon KUR secara cepat, mudah, murah, dan aman.

“Jangkauan BRISat mendukung BRI untuk berkontribusi dalam menyukseskan Program Inklusi dan Literasi Keuangan yang dicanangkan Pemerintah,” ujar Heri Purnomo.

Terobosan kedua adalah melalui penyebaran agen BRILink yang sudah dididik sehingga siap memberikan informasi apapun terkait produk KUR yang dimiliki oleh BRI.

“Sampai saat ini terdapat 401.550 agen BRILink yang tersebar di 17 kota. Ada di Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Manado, dan Jayapura,” paparnya

Sedangkan terobosan terakhir adalah BRI Sistem Perkreditan Online Terpadu atau BRISpot, sebuah program digitalisasi proses kredit berbasis internet untuk kredit mikro.

Melalui BRISpot, para tenaga pemasar BRI langsung mendatangi pemohon KUR dan melakukan verifikasi, sehingga masyarakat tidak perlu repot datang ke kantor-kantor konvensional BRI untuk mengurus semuanya.

“BRISpot ini langsung diakses oleh marketing kami. Mereka langsung mendatangi orangnya (pemohon KUR), kemudian difoto orangnya, dan bila semuanya memenuhi persyaratan, kreditnya bisa langsung jalan. Paling lama dua hari sudah masuk rekening pemohon KUR,” jelas Heri Purnomo.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, selama tahun 2015-2018, realisasi penyaluran KUR oleh BRI mencapai Rp235 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 12,5 juta dan persentase kredit bermasalah (NPL) 0,99%.

Sementara pada tahun ini, data per tanggal 28 Februari 2019 mencatat realisasi penyaluran KUR oleh BRI mencapai Rp16 triliun dari target Rp87 triliun, dengan jumlah debitur sebanyak 747 ribu. Adapun target nasional penyaluran KUR pada tahun ini adalah sebesar Rp140 triliun, di mana hingga 28 Februari 2019 sudah terealisasi Rp23 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 842 ribu.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir dan Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Yuana Setyowati.

Pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan mendapat jalur khusus untuk mendapat Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan tersebut tengah dikaji hingga pertengahan 2019. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir. “April ini sudah bisa keluar Permenko [peraturan menteri koordinator].
Paling mungkin Mei kali ya [sudah terbit]. Tapi secara formal sebenarnya keputusan komite sudah diputus. Sebenarnya dia [aturan] sudah bisa mulai analisis,” ujar dia

Iskandar juga mengatakan, jumlah pensiunan PNS yang memiliki merinstis usaha dinilai cukup tinggi. Meski demikian, dia menegaskan KUR pensiunan PNS nantinya hanya akan disalurkan bagi sektor produktif. “Jumlah yang menginginkan banyak. Ketika melihat data banyak. Ketika PNS ternyata dia sudah bisnis kecil-kecilan. Maka itu ada usulan. Itulah latar belakangnya,” kata dia. Aturan mengenai pemberian KUR bagi pensiunan PNS diprediksi pertengahan tahun ini.

Hal ini, kata dia, sehingga bisa turut menyukseskan target penyaluran KUR tahun ini. “Mei ini baru bisa (pensiunan PNS) pinjam lewat KUR,” ujar dia. Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, penyaluran KUR sepanjang Januari-Februari 2019 berjumlah Rp23 triliun dari target keseluruhan Rp140 triliun pada 2019. Tingginya permintaan KUR, menurut Iskandar, karena bunga yang rendah yakni 7 persen per tahun. Hal ini berbeda dengan kebijakan KUR pada 2007 dengan bunga mencapai 24 persen.